Sabtu, 09 Februari 2013

Strategi Perbankan Sebagai Pilar Pertumbuhan Ekonomi Nasional: Studi Kasus Bank Mandiri


Memiliki perekonomian terbesar ke-16 dari seluruh negara yang ada di dunia, Indonesia menjadi sebuah negara yang sangat diperhitungkan perkembangannya. Bahkan, McKinsey (salah satu perusahaan konsultan ternama di dunia) memperkirakan bahwa terdapat 1,8 miliar dolar pasar yang bisa dikembangkan sampai tahun 2030 mendatang dalam industri jasa, pertanian dan perikanan, sumber daya alam, dan pendidikan. Perkembangan yang paling signifikan diharapkan terjadi pada sektor savings and investments yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan sektor lainnya pula. Pertanyaannya adalah, apakah sektor ini dengan berbagai institusi finansial yang ada, terutama perbankan, sudah siap? Apakah strategi yang mereka terapkan berhasil membuat mereka maju dan bertahan sebagai salah satu pilar perkembangan ekonomi Indonesia ke depan?

***

Masih kita ingat gejolak krisis global tahun 2008 lalu yang mengguncang industri perbankan di seluruh dunia. Indonesia –salah satu negara yang disebutkan ada dalam emerging Asia– termasuk satu dari beberapa negara yang kondisi perbankannya mampu pulih dengan cepat. Berdasarkan data Thomson Reuters yang telah dianalisis lebih lanjut, ROE minus Cost of Equity (menunjukkan tingkat pengembalian investasi bersih setelah dikurangi berbagai biaya ekuitas) pada tahun 2011 menunjukkan angka 5%-7% untuk Indonesia, jauh di atas pencapaian Eropa, Amerika Serikat, dan beberapa negara maju lainnya (McKinsey, 2013).

Meskipun saat ini kondisi perbankan global telah menunjukkan perkembangan yang positif, tetapi ROE mereka hanya mampu mencapai 7% –setengah dari ROE yang mampu mereka peroleh pada periode sebelum krisis. Walaupun begitu, Asia termasuk dalam kelompok geografis yang mampu tetap terus tumbuh –meskipun agak lambat dan volatilitasnya tinggi– dengan menyumbang lebih dari 39% dari pertumbuhan pendapatan bank secara global.

Membangun suatu sistem perbankan yang sustainable di balik segala ancaman risiko yang ada saat ini memang tidak mudah. Tetapi dengan situasi demografi dan ekonomi dari emerging Asia (terdiri dari Cina, India, Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam) saat ini, sangat penting untuk memfokuskan pertumbuhan perbankan di pasar lokal melalui: (1) usaha mikro,kecil, dan menengah, dan (2) konsumen kelas menengah. Dengan menggunakan studi kasus Bank Mandiri, tulisan ini akan mencoba melihat langkah-langkah strategis apa saja yang sudah dilakukan oleh industri perbankan dalam negeri dalam memanfaatkan peluang pertumbuhan ini dalam memajukan ekonomi bangsa.

***

Bank Mandiri sebagai salah satu bank terbaik di Indonesia (yang baru-baru ini juga dinobatkan sebagai bank internasional terbaik di Indonesia dengan aset di atas 50 triliun rupiah versi Infobank) memiliki visi untuk “Menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang Paling Dikagumi dan Selalu Progresif”. Tidak main-main memang. Demi mencapai visi tersebut, Bank Mandiri mentargetkan diri untuk memiliki nilai kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia dan menjadi Top 5 Bank di Asia Tenggara pada tahun 2014 (Bank Mandiri Annual Report 2011). Bank Mandiri sepertinya melihat kesempatan besarnya potensi pasar dalam negeri. Terbukti dalam sepuluh rumusan target utama yang ingin dicapai di tahun 2012 (dan menjadi rencana jangka pendeknya) meliputi: (1) peningkatan pangsa pasar kredit dan peningkatan pangsa pasar dana (untuk merespon kebutuhan usaha mikro, kecil, dan menengah), dan (2) pengembangan retail payment business untuk mendorong peningkatan komposisi dana murah (untuk merespon kebutuhan masyarakat kelas konsumsi menengah).

1.       Pengucuran Modal Usaha yang Semakin Mudah

 

Small & Micro Business 

Secara global, saat ini Perbankan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah meraih pendapatan berkisar antara 150 miliar dolar. Angka ini pun masih diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun mendatang, menghasilkan 20% pertumbuhan per tahunnya. Di Indonesia sendiri, sekitar 60% Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah belum terlayani (McKinsey Quarterly, 2012).

Walaupun begitu, perbankan Indonesia mulai berusaha membantu segmen ini. Misalnya, Bank Mandiri memiliki Micro and Retail Banking serta Comercial and Business Banking. Usaha mikro banyak dibantu dengan pengucuran kredit yang lebih banyak, terbukti dari pelaporan portfolio kredit untuk usaha mikro sebesar 62,1% (total Rp11,84 triliun). Hal ini pun diimbangi dengan dibukanya cabang mikro, outlet mikro, ataupun kios mikro rata-rata 50% lebih banyak dari tahun sebelumnya untuk mendukung pemerataan pemberian kredit (Bank Mandiri Annual Report 2011). Perkembangan ini tentu adalah poin yang menjawab tantangan bahwa lingkup area Usaha Mikro yang mampu dicapai cabang bank di Indonesia masih rendah (McKinsey Quarterly, 2012). Secara nyata, Bank Mandiri juga ikut menopang pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah ini lewat adanya Program Wirausaha Muda Mandiri yang sudah berjalan sejak 2007 silam.

2.       Pemberian Layanan Pada Customers Secara Total

 

Layanan 24 Jam 

Adanya 45 juta penduduk yang termasuk ke dalam kelas masyarakat dengan tingkat konsumsi tinggi saat ini (McKinsey Quarterly, 2012). Konsumsi mereka terhadap kebutuhan investasi dan keuangan pun diperkirakan mencapai 95 miliar dolar. Tentu saja dengan jumlah sebanyak itu, masyarakat ini memiliki kebutuhan finansial yang bermacam-macam.

Pelayanan yang dilakukan Bank Mandiri untuk memenuhi kebutuhan konsumen tersebut mencakup pelayanan penyimpanan dan pelayanan peminjaman dana. Pelayanan penyimpanan dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan misalnya, sudah mencapai 149,9 triliun rupiah pada 2011 lalu. Jumlah ini naik 21% dari jumlah tabungan di tahun sebelumnya. Tentunya ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang semakin besar pada Bank Mandiri. Pelayanan ini misalnya mandiri tabungan dan mandiri tabungan rencana. Mandiri tabungan sendiri adalah penyimpanan dana dari masyarakat yang merupakan pelayanan Bank Mandiri yang paling dikenal. Namun, beberapa masyarakat menginginkan tabungan yang terencana untuk keperluan spesifik di masa depan. Keperluan pendidikan anak, misalnya. Untuk itulah Bank Mandiri mengeluarkan juga pelayanan mandiri tabungan rencana dengan konsep iuran tetap setiap bulan tanpa boleh diambil untuk mendapatkan total uang yang pada waktunya nanti bisa kita pergunakan demi pendidikan kuliah anak, misalnya.

Di sisi lain, pelayanan peminjaman dana dari Bank Mandiri dengan kampanye pelayanan “quick and easy” semakin memudahkan masyarakat yang memerlukan dana untuk dipergunakan dalam waktu dekat. Beberapa pelayanan tersebut antara lain mandiri kta (kredit tanpa agunan), mandiri kpr (kredit perumahan rakyat), dan mandiri kartu kredit. Mandiri kta bisa dipergunakan saat kita sangat memerlukan uang dalam waktu cepat tanpa adanya agunan, misalnya jika memerlukan dana cepat untuk kebutuhan biaya rumah sakit. Mandiri kpr biasanya dipergunakan saat kita memerlukan dana cukup besar untuk membuat rumah dengan metode pembayaran cicilan tetap setiap bulannya. Sedangkan mandiri kartu kredit adalah jenis pelayanan peminjaman dana untuk memudahkan kita dalam pembayaran saat ini sangat populer dipergunakan untuk memudahkan pembayaran belanja di kafe, shopping mall, tagihan biaya hotel, dan sebagainya.

Untuk menyampaikan informasi tentang berbagai pelayanan ini kepada masyarakat pun, Bank Mandiri tak tanggung-tanggung memakai berbagai media informasi, salah satunya adalah iklan menarik berikut ini.




Analisis lebih lanjut tentang pelayanan Bank Mandiri dapat dilihat pada tulisan di artikel berikut ini dengan judul “Raih Consuming Class Indonesia, Bank Mandiri Melayani dari Hati”.

Indonesia memang berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonominya di balik segala krisis yang menerpa. Hal ini tentu ditopang pula oleh kinerja perbankan Indonesia yang mengalami pertumbuhan positif dari tahun ke tahun. Bank Mandiri, sebagai salah satu bank terkemuka di Indonesia, diharapkan untuk bisa menerapkan strategi yang sustainable terutama dalam menjadi pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya yang diperkirakan akan sangat ditopang oleh kegiatan konsumsi dan investasi masyarakat. Sampai tahun 2012 ini, sedikit demi sedikit Bank Mandiri mampu menjaga sustainability dan stabilitasnya melalui transformasi yang sudah dicanangkan sejak 2005 lalu dengan beberapa langkah strategis. Itulah langkah nyata Bank Mandiri untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat dan para nasabahnya dengan pelayanan yang terbaik dan penuh semangat untuk menjadi “bank terdepan, terpercaya, dan tumbuh bersama Anda”.

Inspirasi Ide:
McKinsey Quarterly, "The Archipelago Economy, Unleashing Indonesia's Potential", September 2012.
McKinsey Quarterly, "The Changing Face of Asian Personal Financial Services", September 2011.
McKinsey Quarterly, "The Search for A Sustainable Banking Model", January 2013.
McKinsey Quarterly, "Build-To-Order Banking in Asia", 2002.
McKinsey Quarterly, "A Localization Strategy for Asian Wholesale Banking", December 2006.
McKinsey Quarterly, "Tapping The Next Big Thing in Emerging-Market Banking", April 2012.
McKinsey Quarterly, "Asian Wholesale Banking: Winning in The New Battleground", March 2011.
McKinsey Quarterly, "China's Banks Get Personal", 2002.
Bank Mandiri, http://bankmandiri.co.id/index.aspx.
Bank Mandiri Annual Report 2011.
Bank Mandiri Annual Report 2010.

Tidak ada komentar: