Selasa, 27 Mei 2008

Tugas B. Ind 3

ETIKA AKUNTANSI : REALITA DAN IDEALISME DALAM PENEGAKANNYA

Sebuah profesi adalah pilihan setiap orang. Dalam sebuah profesi, kita tidak hanya berhubungan dengan rekan kerja dan kolega, tetapi juga klien. Sebelum memasuki dunia profesi, seorang manusia terikat dalam norma yang berlaku di masyarakat. Ketika kita sudah masuk dunia tersebut, kita juga akan terikat dengan norma kelompok yang berlaku pada sebuah profesi tertentu. Hal ini sering disebut dengan kode etik profesi. Tulisan ini akan membahas kode etik tersebut dan berbagai kedala yang ada dalam menegakkannya, terutama dalam profesi akuntan.
Kode etik sangat erat hubungannya dengan etika dan moralitas dan dasar pembenaran semua perilaku dari kacamata etika adalah hati nurani. Dalam sebuah komunitas tertentu, kode etik digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sesuatu agar tidak merugikan orang lain, terutama masyarakat. Perlu kita pahami bahwa tidak semua peraturan dalam kode etik profesi tercantum dalam undang – undang suatu negara sehingga kekuatan mengikatnya pun tidak terlalu memaksa. Disinyalir ada kecenderungan untuk melakukan suatu pelanggaran dalam menjalankan suatu profesi karena tekanan kekuasaan dari atasan, keinginan untuk mengeruk keuntungan sendiri, dan konflik kepentingan.
Akuntansi adalah sebuah bagian penting dalam perusahaan yang mengolah data keuangan. Bagian ini bisa disebut sebagai jantung perusahaan karena baik tidaknya perkembangan sebuah perusahaan ditentukan dari output data akuntansi perusahaan. Oleh karena itu banyak pihak yang terkadang ingin memanfaatkannya untuk melakukan hal yang tidak baik demi kepentingan diri sendiri. Tidak jarang perbuatan ini akan menimbulkan kerugian pada pemegang kepentingan lainnya. Misalnya seorang direktur yang ingin mengakui pendapatan yang baru dijanjikan tapi belum diterima sama sekali agar pendapatan dari perusahaan naik, seorang manajer yang ingin menunda pencatatan beban operasi agar keuntungan bertambah, dan para pemegang saham yang sepakat untuk mengalihkan sebagian pendapatan perusahaan ke rekening pribadi mereka untuk menghindari pembayaran pajak yang terlalu tinggi kepada pemerintah.
Pada berbagai kasus, seorang akuntan sering menjadi korban pemaksaan untuk membuat laporan akuntansi palsu atau mengubah laporan tersebut. Terbukti dengan maraknya tindak kecurangan akhir – akhir ini yang muncul ke permukaan seperti kasus Asian Agri, Enron, dan masih banyak lagi yang menunjukkan dengan jelas suatu pelanggaran kode etik profesi akuntansi. Hal ini menggugah hati kita untuk memahami bagaimana sesungguhnya realita yang dihadapi seorang akuntan. Banyak yang berkomentar pesimistis atau bahkan memberi jargon “ jujur ajur” di profesi akuntan. Jika kita ingin bertahan, maka mau tidak mau kita harus mengikuti arus yang ada di sekitar kita. “Kalau ingin bertahan di dunianya tukang tipu, kau juga harus jadi penipu,” kira – kira seperti itulah komentar orang – orang yang sudah mencicipi nikmatnya dunia kerja seorang akuntan. Mereka yang antipati bahkan berkomentar lebih tajam seperti “Kau itu masih mahasiswa. Masih bisa mengusung – usung idealisme karena belum pernah mencecap pahit dunia kerja di luar sana. Bisa saja kau berdemo menentang keras korupsi. Tapi tunggu saja ketika kau sudah jadi pejabat, mungkin kau sendiri yang akan korupsi.” Kita bisa saja menolak pernyataan semacam ini. Tapi kita juga perlu melihat bahwa mereka yang pesimis terhadap penegakan kode etik akuntansi mempunyai dasar yang cukup kuat. Berdasarkan sebuah penelitian terhadap beberapa orang akuntan, 20 % tidak pernah melakukan kecurangan apa pun situasinya, 60% berpendapat tindakan mereka bergantung pada situasi dan kondisi yang ada, dan 20% lainnya mengatakan pernah melakukan kecurangan seakan – akan itu sudah menjadi kebisaaan.
Hal inilah yang membuat kita bertanya – tanya, sebegitu sulitkah mempertahankan idealisme di tengah realita yang ada saat ini? Apakah kode etik hanya akan menjadi isi sebuah kitab usang yang teronggok penuh debu di sudut perpustakaan? Ahli etika akuntansi Duska pernah mengatakan kita telah bersikap etis jika kita yakin apa yang kita lakukan benar dan kita bangga telah melakukannya. Saya rasa satu hal ini perlu dipegang teguh ketika kita mengambil sikap. Selain itu, lingkungan yang tidak melakukan hal yang benar tidak akan menghalagi kita untuk melakukan hal – hal benar yang bisa dilakukan.

***

Tidak ada komentar: